…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Wisata “Kembali” Ke Kampung Bugis

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 6, 2012

WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang

Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)

Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.

Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.

Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.

Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka.

Mereka Yang Mencari Jejak Pulang

Museum Bugis di Johor Bahru Malaysia (sumber: panoramio.com)

Suatu malam di pertengahan bulan Februari 2008, Encik Haji Ahmad Syukri bin Haji Abdullah, pegawai jawatan Agama di Johor Malaysia menunjukkan sebuah bosara (nampan dan tutup saji untuk penganan yg biasa disajikan dalam acara pernikahan bugis) berwarna hitam dengan pernik berwarna keemasan di sekelilingnya. Di ruang tengah rumahnya di kawasan Pontian negara bagian Johor Baharu, Malaysia, ia menjamu saya dan kakak saya yang kebetulan sudah kenal lama. Sejurus kemudian, istrinya bergabung bersama kami sambil membawa sebuah wadah kecil dari kuningan “Ini contoh alat penyimpan ota (sirih) dan saya beli di pasar Pontian. Kata orang ini didatangkan dari Pattani, Thailand Selatan”.

Haji Syukri, lelaki melayu paruh baya yang dalam darahnya masih mengalir darah turunan bugis, terlihat bersemangat memperlihatkan bosara yang indah itu, sambil bercerita tentang keinginannya menjadi pedagang pernik-pernik khas Bugis Makassar di Johor. Istrinya, perempuan asal Bugis Bone dan masih fasih berbahasa bugis, juga turut mengamini keinginan suaminya. “Di Johor ini, ada ribuan keturunan Bugis yang masih tekun melestarikan budayanya” ujarnya. “Di Telok Kerang bahkan didirikan museum Bugis tempat para keturunan Bugis mengenang kembali leluhur mereka”.

Data statistik yang diunduh dari wikipedia memang menunjukkan bahwa ada sekitar 730ribuan warga keturunan Bugis bermukim di Malaysia. Kebanyakan diantaranya mendiami kerajaan Johor, terlebih karena dulunya kerajaan ini didominasi oleh raja-raja keturunan Bugis. Distrik Pontian yang berada di pesisir barat menghadap langsung ke selat Malaka menjadi habitat utama komunitas keturunan Bugis di Johor. Bahkan di Bulan November 2011 yang lalu, Pusat Kajian Alam Bina Melayu (KALAM) University Technology Malaysia Johor Bahru juga menggelar perhelatan International Bugis Diaspora Conference dengan mengundang puluhan pembicara yang membahas diaspora suku Bugis dan keuletan mereka mempertahankan tradisi. (Cuplikan klip pembuka seminar ini bisa dilihat di video di akhir postingan ini).

Haji Syukri menikah di Makassar ketika masih berstatus mahasiswa di IAIN Sultan Alauddin Makassar, di akhir tahun 1980-an. Empat anak lahir dari pernikahan mereka, dan semuanya berkewarganegaraan Malaysia. Hanya istri pak Haji Syukri yang masih setia memegang passport Indonesia, “suatu saat, saya akan kembali ke kampung dan dikuburkan di sana” ujarnya tersenyum.

Pesta adat Bugis di Johor Malaysia (Sumber: http://massahar-tiga.blogspot.com)

“Saya memimpikan kembali mengunjungi kampung bugis dan bermalam di rumah panggungnya. Di pagi hari bisa memandangi hamparan sawah menguning sepanjang mata memandang sambil menikmati alunan hentakan tenun di bawah kolong. Juga iringan lagu bugis dan pakkacaping yang mendayu-dayu seakan melemparkan diri saya ke jaman leluhur” demikian Haji Syukri mulai menerawang, seperti menyusuri jejak pulang ke tanah moyangnya berasal. Ketika masih kuliah di Makassar, ia bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa asal Malaysia sempat berkunjung ke kampung-kampung Bugis di Bone, Wajo dan Soppeng. Mereka begitu bahagia bermukim dan merasakan menjadi manusia bugis lagi.

Ketika melepas kami di stasiun bus menuju Singapura keesokan harinya, Haji Syakir sempat berpesan supaya kami membuka usaha biro perjalanan ke kampung-kampung bugis dengan nuansa membumi; khusus bagi orang-orang seperti pak Haji Syakir yang merindukan nostalgia menjadi manusia bugis kembali.

Kisah Encik Haji Ahmad Syukri bin Haji Abdullah hanya satu fragmen di antara ribuan kisah perantau dan keturunannya yang merindukan kampung. Mereka tentu tak bermaksud kembali secara permanen, tapi sekadar menyusuri jejak pulang dan menikmati beberapa jenak wisata nostalgia itu. Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan mereka sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Ada jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, tentu menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata.

Menggarap Ceruk Wisata Para Perindu Kampung
Bagi para perindu “kampung”, kemegahan shopping centre atau taman hiburan mewah tentu tak begitu menarik hati. Wisata konsumtif itu seperti tak menambah nilai apapun terhadap laku diri mereka, dan malah semakin mengasingkan diri dari budaya sendiri. Menyuapi masyarakat dengan hingar bingar modernisme tentu bukan jaminan bahwa mereka akan tercerdaskan secara psikologis. Dan masyarakat yang cerdas, bisa memilih sendiri seperti apa kemewahan yang dia butuhkan untuk dinikmati.

Setiap tahun ada jutaan perantau Bugis yang “kembali”. Tak hanya membawa kenangan untuk direkonstruksi, tapi juga mereka membawa pasangan – yang terkadang berasal dari suku berbeda, dan anak-anak. Bersama mereka coba menjalin kelindan sebuah cerita tentang asal muasal, dan sejarah seperti menemukan jalannya kembali.

Ada sekitar 1,5 juta penutur bahasa bugis yang berdiam di luar Sulawesi Selatan, sebahagian besar diantaranya berada di Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa dan Malaysia. Populasi gabungan orang Makassar, Mandar, Toraja yang menjadi perantau mungkin sebanyak 500ribu. Ditambah total jumlah penduduk Sulawesi Selatan sendiri sebanyak 8juta jiwa, maka pangsa pasar yang disasar oleh wisata kembali ke kampung ini cukup besar: 8-10juta jiwa. Sekira 10% saja yang menyisihkan waktunya untuk menikmati keindahan budaya asli ini, tentu bisa berbilang cukup banyak pendapatan daerah dari sektor ini.

Perempuan Bugis menenun sarung dengan balida (Sumber: istimewa)

Sentra-sentra perkampungan Bugis yang khas perlu dikembangkan di berbagai daerah. Nuansa keunikan perlu dikembalikan ke bentuk aslinya. Mengajak mereka, para perantau dan keturunananya itu, kembali menengok kampung halaman tentu dengan imbal wisata yang pantas. Kenangan yang mereka rawat tentu melulu tentang keindahan, kedamaian dan semua romansa yang melekatkan mereka bahkan hingga terpisah jauh. Rumah-rumah panggung Bugis dari kayu yang kokoh namun tetap bersahaja, dengan arsitektur dan interior khas merupakan muara daya tarik itu. Memberi kesempatan mereka bermalam dan merasakan nuansa kampung Bugis tentu pengalaman yang tak kan terlupakan, apalagi kalau dihabiskan bersama pasangan dan anak-anak. Dengan disuguhi berbagai kuliner khas yang memanjakan lidah seperti masakan ikan bakar, sambal, barobbo’, gammi lawa, ronto’, sayur parapa’ dan kue-kue kering khas bugis makassar bakal melengkapi kebahagiaan mereka menikmati wisata kampung yang asli.

Ketika pagi menjelang, dengan iringan orkestra hentakan balida (bahasa bugis untuk ATBM= Alat Tenun Bukan Mesin) dari perempuan-perempuan Bugis yang menenun kain sutera di kolong-kolong rumah panggung seperti siap menggerakkan roda ekonomi perkampungan. Ketika perempuan-perempuan itu mulai menggerakkan balida, lelaki-lelaki mereka sudah bersiap dengan bercaping dan cangkul hendak menuju sawah setelah menyantap pisang goreng dan kopi kental di serambi rumah.

Anak-anak bermain dengan Kerbau (Sumber: bumipetani09.blogspot.com)

Kita bisa ikut menikmati irama itu, sembari menikmati mandi di sumur atau sungai sambil menghirup udara kampung yang segar. Anak-anak perempuan bisa ikut belajar menenun dengan teknologi tanpa mesin, sedang bocah-bocah lelaki bisa berbaur dengan lumpur di sawah sambil ikut menunggangi kerbau pembajak. Bagi yang berada di tepi danau semisal danau Tempe atau danau Sidenreng, bisa juga menyemai alur sungai dengan perahu berhidung gambar burung khas Wajo. Wisata semacam ini sungguh mendekatkan diri ke alam, sesuai dengan penggalakan pariwisata berbasis ekologis atau eco-tourism.

Seorang Pakkacaping sedang beraksi (sumber: http://disbudparpolman.weebly.com)

Saat siang berlalu dan sore menjelang, sambil menikmati penganan khas bugis semisal barongko atau dange’, para “perindu kampung” bisa disuguhi alunan pakkacaping yang tak hanya elok di telinga tapi juga bisa mengisi benak kita dengan hikmah yang tersirat dari wiracerita. Kita bisa ikut mendalami kisah Datu Museng, Syekh Yusuf, Perang Bone (Rumpa’na Bone), atau kisah si anak nakal Maddukelleng memerdekakan tanah Wajo dan sebagainya. Musik dan cerita yang disandingkan dalam irama kacaping (sejenis sitar gesek) yang dimainkan secara solo adalah satu diantara kesenian bugis yang lamat-lamat mulai menghilang. Dengan mengembalikan alunan musik khas ini ke ruang dengar para penziarah, turut melestarikan sastra ritmis ini disamping melengkapi kerinduan para wisatawan dengan budaya leluhur sendiri. Selain itu, dengan menyajikan dalam bahasa bugis, para pengunjung akan disegarkan kembali ingatan mereka akan kosa-kata bahasa daerah dalam sastra lisan ritmis ini.

Pengantin Bugis (koleksi pribadi)

Para wisatawan juga perlu diajak menghadiri ritual pernikahan adat Bugis yang sakral, dengan peragaan busana adat atau ritual mabbissudari penghela acara. Pesta pernikahan bugis umumnya menjadi semacam ajang pameran benda-benda budaya, mulai dari lamming (pelaminan) yang berhiaskan pernak-pernik berwarna meriah keemasan, busana adat pengantin lengkap dengan jas tutup, tutup kepala dan kerisnya, bosara, sarung sutra, dan sebagainya. Pesta pernikahan semacam bukti bagaimana orang-orang Bugis merawat dan menyemai budayanya. Terkadang improvisasi atau pengembangan assessoris mewarnai pesta ini, yang menunjukkan bagaimana adaptasi budaya Bugis yang selalu mencoba beriringan-jalan dengan perkembangan masyarakat.

Mencari Akar Sejarah Yang Terserak
Selain bercengkerama dengan alam kampung Bugis yang bersahaja, wisata ini juga perlu menghidupkan situs-situs sejarah yang ada. Tujuannya tak lain untuk menghadirkan kembali yang tertinggal dalam ingatan dan merawat yang terkenang. Bukan hanya situs berupa bangunan fisik yang menjadi monumen resmi kronik perjalanan kebangsaan kaum bugis, tapi juga situs-situs yang terawat oleh alam sendiri, semisal gunung, sungai, pantai, pelabuhan, dan sebagainya.

Sungai Larona, konon Sawerigading pernah menyusurinya (sumber: http://jackdrapid.multiply.com)

Siapa yang tak tertarik menyusuri sungai Larona yang menjadi latar mitologi epos La Galigo ketika Sawerigading menghela perahu Walenrangnya menuju kampung Cina menjumpai kekasihnya: We Cudai. Hilir sungai ini akan membawa kita ke kampung Ussu’ di Luwu Timur, konon merupakan habitat asal Sawerigading dan Tomanurung. Juga ada sungai Walanae yang menghubungkan Laut Bone dan Danau Tempe, tempat bersejarah di mana pasukan Lamaddukelleng bertempur mati-matian menghadapi pasukan Bone pimpinan Ratu Batari Toja dan sekutunya, VOC di abad 18M. Juga ada Tosora di Wajo yang memendam dua pusaka: makam Syekh Jamaluddin al-Husayni al-Akbari, penyebar Islam paling awal di Indonesia (abad 12M) dan sisa-sisa istana Wajo yang hancur akibat perang berkepanjangan. Pantai Bajoe dan Balanikpa di teluk Bone juga menyimpan kisah heroik yang sama, bersama dengan pegunungan Pammana Wajo, mereka pernah menjadi saksi betapa dahsyatnya Perang Bone pimpinan Arumpone La Pawawoi dan putranya Petta Ponggawa di tahun 1905.

Situs-situs budaya seperti museum, saoraja atau balla lompoa (istana raja) ataupun makam raja-raja setidaknya perlu digarap dengan cermat mengingat hingga kini kurangnya informasi pendukung bagi wisatawan yang datang berkunjung. Ketika beberapa kali saya berkunjung ke Fort Rotterdam Makassar atau Balla Lompoa di Gowa, saya hanya terpaku melihat benda-benda sejarah yang membisu. Dengan keterangan seadanya, saya seperti membaca kitab sejarah agung namun koyak tanpa bisa terpahami pesannya.

Makam Ratu Tanete We Tenri Olle (berkuasa 1855-1910) - Bahkan tahun lahirnya tidak diketahui (sumber: istimewa)

Salah satu peninggalan sejarah yang tragis adalah makam Siti Aisyah We Tenriolla, Arung Tanete (1855-1910) di Tanete Barru yang senyap dari pembacaan. Hingga tahun kelahirannya pun masyarakat sekitar tak ada yang mengetahui, apalagi kiprahnya yang melegenda; menulis ulang epos La Galigo bersama ibundanya Colliq Poedjie dan F Matthes. Itu hanya contoh betapa jauhnya keseriusan kita menghadirkan jejak budaya luhur bangsa ini. Akar sejarah yang terserak, tentu perlu dipungut kembali. Pembacaan yang akurat agar hikmah teralirkan wajib dihidangkan untuk menjadi santapan spiritual. Membingkainya dalam paket wisata “Kembali” tentu menjadi momen yang tepat; tak perlu seserius riset atau kuliah tapi dikemas dengan suasana edu-tourism yang santai, bersahaja namun mencerdaskan.

Wisata “Kembali” Ke Kampung: Menyapa Sang Kerabat Jauh
Indonesia umumnya, dan Sulawesi Selatan khususnya, bukanlah sebuah wilayah yang punya keunggulan modernitas dibanding negara sekitarnya. Fakta memang menunjukkan bahwa kita masih tergagap dengan teknologi, masih sekadar berkelakuan sebagai pengguna setia dan bukan penghasil. Namun, ini tak mesti menjadi soal utama. Sesuai dengan pegangan filosofis para pendiri negara dan kearifan lokal masyarakatnya, kita selayaknya tetap santun menjadi bangsa yang agraris. Masyarakat yang menjadikan sawah, ladang dan perairan sebagai kaki dan tangan yang menggerakkan roda ekonomi bangsa. Tak perlu menolak modernitas dengan segala kemewahan teknologi tercanggihnya, tapi tetap mencoba mengadaptasikan diri tapi dalam kerangka filosofis tadi. Sumbu peradaban kita berada mengakar di kemolekan alam dan kerendahan hati penghuninya.

Demikian pula dengan Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatanyang sekira memilih untuk mengedepankan wisata yang bersahaja; Wisata Kembali Ke Kampung bisa menjadi wisata unggulan pariwisata Sulawesi Selatan dalam program kampanye tahun Kunjungan Sulawesi Selatan 2012 (Visit South Sulawesi 2012). Sasarannya memang diutamakan bagi para perantau, keturunan dan keluarganya yang hendak meretas jalan menyusuri jejak pulang. Wisata ini punya potensi pasar sebanyak 8-10 juta jiwa sebagaimana dipaparkan sebelumnya. Meski tentu saja kearifan dan kebersahajaan kampung juga akan menarik wisatawan manca negara yang punya rasa ingin tahu atau sekedar hendak merasakan aroma wisata yang membumi. Manusia modern yang nestapa dengan segala permasalahannya, membutuhkan rehat sejenak untuk mengembalikan mereka ke alam tempat berasal. Trend wisata saat ini menunjukkan bahwa cukup banyak yang mulai melirik mendatangani tempat-tempat natural yang tak tersentuh modernitas semu. Bali bahkan sejak lama diminati wisatawan justru karena keaslian dan keasrian wilayahnya.

Rumah Bugis di Wajo (sumber: wajobloggercomunity.blogspot.com)

Paket wisata ini sejatinya akan menjadikan diri sebagai tuan rumah di kampung sendiri. Dengan melibatkan partisipasi warga kampung secara aktif, ibarat menerima kehadiran para perantau yang “kembali” itu selaik kawan dan kerabat jauh yang datang menyapa. Kehangatan berbaur dan bercengkerama, karena ada ikatan emosional diantara para pengunjung dan yang dikunjungi. Keamanan dan kenyamanan wisata menjadi jaminannya, dimana hal ini sudah menjadi prasyarat utama bagi sebuah paket wisata. Ditambah lagi bahwa penyajian dan pendampingan selama kunjungan dijalankan oleh yang benar-benar memahami isi kampung itu sendiri. Mungkin pemahaman kesejarahan dan akar budaya perlu diasupkan ke warga kampung tersebut, agar kiranya bisa terkoneksi kisahnya antara masa leluhur dan masa kini yang menjadi salah satu keunggulan paket wisata ini.

Namun, hal lain yang sangat penting perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah ini. Sebagus apapun paket wisata yang ditawarkan kepada khalayak, infrastruktur, suprastruktur dan fasilitas umum menuju lokasi dengan keamanan-kenyamanan memuaskan selama berkunjung mutlak menjadi syarat utama suksesnya program ini. Jalan-jalan utama dan penghubung mesti menjadi prioritas utama pemerintah, disamping peningkatan pelayanan dari sumber daya yang mendukung program ini. Jangan pernah berharap pengunjung akan tertarik mendatangi negeri kita sekira dihadapkan dengan akses dan layanan yang buruk. Maskapai penerbangan baik dalam maupun luar negeri juga perlu digandeng untuk ikut mempromosikan paket wisata ini, selain juga menumbuhkan usaha biro perjalanan yang profesional yang bisa memberikan kepastian harga dan penyediaan informasi yang dikemas menarik.

Anak2 perempuan berpakaian adat Bugis (koleksi pribadi)

Jangan lupa, bermitra dengan media-media online semacam portal berita, citizen journalism web, blog-blog atau social media demi memperluas cakupan sasaran. Ada banyak website yang secara voluntary melengkapi diri dengan informasi bermuatan budaya lokal bugis yang secara tak langsung ikut mempromosikan kemolekan daerah ini. Selain bahwa pemerintah daerah dan dinas pariwisatanya juga wajib melengkapi laman website mereka dengan informasi akurat, lengkap dan terkini agar menarik buat pengunjung. Apalagi media online sekarang menjadi referensi pertama yang diunduh oleh para pengunjung yang kebanyakan memiliki gadget yang terhubung internet.

Program wisata “Kembali Ke Kampung” ini tentu tak hanya cocok dikemas untuk Kampung Bugis, tapi juga sangat menarik dikembangkan di kampung-suku-bangsa lain di Sulawesi Selatan; Makassar, Mandar, Toraja, Duri. Tulisan ini hanya menyasar Kampung Bugis karena keterbatasan pengetahuan penulisnya, dan berangkat dari kerinduan pribadi sebagai passompe di negeri orang. Juga terinspirasi dari cerita kerinduan kawan-kawan seperantauan yang selalu hinggap dalam renungan. Akhirul kata, semoga pariwisata kita bisa menjadi tuan rumah yang baik di negeri sendiri, meretas jalan bagi kerabat jauh yang hendak menyusur jejak pulang. Amin!

(Montage pembuka seminar Diaspora Bugis yang menghadirkan suasana nostalgia kembali ke kampung Bugis, sumber link ini)

Banner Lomba Blog South Sulawesi Tourism

About these ads

18 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ucheng anak Makassar said, on April 8, 2012 at 9:23 am

    saya suka kalimat ini, Daeng :: “kemegahan shopping centre atau taman hiburan mewah tentu tak begitu menarik hati. Wisata konsumtif itu seperti tak menambah nilai apapun terhadap laku diri mereka”.

    menunjukkan hausnya kita (perantau) dengan semangat budaya etnik kampung halaman. Walaupun memang sarana shopping center dan wisata modern tetap diburuhkan, biar orang ‘disana’ narasakan tongi kalo ada yg namanya begituan. Namun pengembangan wisata modern tidak musti meninggalkan spirit etnik, apalagi tidak memaksimalkan sektor industri kreatif (kerajinan).

    Semoga catatan ini mendapat perhatian, sehingga perantau yg rindu kampung halaman dan dahaga oleh suasana tradisi, bisa segar kembali tanpa harus minum mijon ato pokarisw*t.

    Salama’

    • daengrusle said, on April 10, 2012 at 5:09 pm

      makasih uceng…
      ini sebenarnya juga berangkat dari kerinduan pribadi sebagai passompe di negeri orang. :)

  2. Daeng Te'ne said, on April 9, 2012 at 4:17 am

    Tulisannya benar-benar membuat orang rindu akan tanah lahir. Ada istilah Jawa “nglumpukno balung” artinya mengumpulkan kembali saudara-saudara yang telah berada jauh disana, untuk kembali. Dan situs-situs wisata inilah yang menarik mereka kembali.
    Salama’

    • daengrusle said, on April 10, 2012 at 5:09 pm

      amin. makasih mbak Ika
      tujuan akhir kita memang “pulang”.

  3. Amril Taufik Gobel said, on April 10, 2012 at 5:10 am

    Slogan “Kembali Ke Kampung” bisa menjadi salah satu “mantra ampuh” dalam strategi pemasaran pariwisata di Sul-Sel. Nice posting, Daeng ! Mari pulang kampung dan menggairahkan riuh rendah pariwisata disana..

    • daengrusle said, on April 10, 2012 at 5:11 pm

      hahaha…terimakasih kak ATG
      selamat ulang tahun, dan semoga cepat pulang kampung. Amin!

  4. Mustamin al-Mandary said, on April 19, 2012 at 2:35 am

    Saya selalu rindu pulang. Kerinduan Rusle adalah kerinduan saya juga. Persis.

    • daengrusle said, on April 19, 2012 at 3:16 pm

      terimakasih ustas….kita memang selalu mengenang kata pulang.

  5. Adityar said, on April 21, 2012 at 5:58 am

    Langsung ingat pas zaman SD jadi passappi’ na om sama panen jagung di sawah. Haha.

  6. Liza Novie Mochtar said, on April 23, 2012 at 7:04 am

    saya yang di Makassarpun jadi terinspirasi pada 2 hal dari postingan ini: pengetahuan lebih mendalam tentang Bugis dan peluang bisnis yang terbuka dari segi pariwisata. terimah kasih dan salam….

  7. erwin said, on April 27, 2012 at 9:29 am

    Ide yang perlu diwujudkan, Wisata kembali ke Kampung, melestarikan budaya, napak tilas peradaban Bugis dan dan budaya Kuno akan membuat kita menjadi lebih arif dan menghargai budaya sendiri… Semangat Daeng !

  8. Jalmatrix said, on May 4, 2012 at 9:57 am

    Memebaca tulisan @dgrusle sangan membarometeri pengetahuan saya tentang Sul-Sel, sehingga memicu adrenalin saya untuk kembali menjejaki situs budaya di sana. Sudah sebelas tahun di rantau, saya hanya mengikuti perkembangan Sul-Sel dari media online, forum (regional) atau blog-blog yang tak sengaja saya temukan saat berseluncur di dunia maya.
    Sangat tertarik dengan Mencari Akar Sejarah yang Terserak.
    Saya pernah ke makam raja-raja Tallo, juru kuncinya bernama Andi Zainuddin masih menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan pusaka-pusaka Raja Tallo masih tersimpan dan terawat dengan baik.
    Namun yang menjadi harapan saya tentang kakek buyut saya (keturun ke-9) adalah seorang Syech yang konon jika pergi haji hanya berjalan kaki melintasi laut, seorang pengikutnya bisa sampai di Mekkah dengan menapaki buih yang ditimbulkan dari bekas pijakan Syech itu, maka dia digelari Wak Busa. Syech itu bernama Abdullah makamnya terdapat di Tonra Kab. Bone. Jika kembali, insyaallah saya akan menulis tentangnya.
    Wasslam

  9. Zamzami Zainuddin said, on October 22, 2012 at 9:19 am

    Saya dari Aceh, pernah ke Sulewesi Selatan tahun 2010….potensi wisatanya memang sangat indah…saya pernah ke Bone, Bantimurung, dan Makassar…wah yang paling menabjubkan adalah surganya kupu-kypu di bantimurung, saya sempat membeli souvenir untuk dibawa pulang ke Aceh…indahnya….pingin kembali lagi suatu saat ke Sulsel….
    jangan lupa ya singgah ke wisata online kami di Aceh : :)

    http://www.zamzamizainuddin.com/2012/10/berwisata-ke-tanah-rencong-aceh.html

  10. petta ponggawae said, on March 15, 2013 at 9:24 am

    ingin rasanya segera pulang tapi tugas belum tuntas, Daeng

  11. andi suryana said, on April 16, 2013 at 7:33 am

    Jadi rinduka sama kampungku di Pinrang baca tulisanta @Dgrusle,meloka’ masija lisu sinruntu’ tomatoakku manre barobbo nanasu itik palekko,ha ha ha…….teruskan tulisanta agar mengobati kerinduan Tana Ogie’,semoga rezeki terbuka agar segera meluncur pulang dari rantauan,Ammmmma” tajengngaaaaa……….tq

  12. Hasma said, on September 16, 2013 at 7:11 am

    Bugis ada dimana-mana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: